Bank sebagai lembaga keuangan perlu mengkomunikasikan setiap produk yang mereka tawarkan. Hal ini dilakukan agar masyarakat mengetahui dan memiliki minat membeli manfaat dari produk yang di tawarkan sesuai dengan kebutuhannya dan keinginannya. Banyak bank menawarkan produknya, baik produk baru atau suatu pengembangan dari produk lama. Diantara mereka ada yang gagal dan tidak sukses dalam merebut kepuasan konsumen.
Sebuah produk baru sangat penting bagi kelangsungan hidup sebuah perusahaan. Saat ini, kebutuhan masyarakat tidak hanya menabung. Masyarakat Indonesia semakin melek investasi dan makin banyak Bank yang menawarkan produk dana, jasa, dan kredit, yang menarik dipasar persaingan antar Bank. Sebuah Bank kini harus mampu memenuhi kebutuhan customer/ nasabah baik itu untuk kebutuhan perbankan, kebutuhan investasi, maupun juga kebutuhan proteksi. Produk baru yang menarik, bersifat kreatif, produktif dan memiki nilai praktis bagi customer akan memperkuat posisi perusahaan. Untuk teciptanya hal tersebut sangat dibutuhkan SDM yang mumpuni, yang mampu berfikir kreatif, serta tim yang solid.
Langkah-langkah dalam perencanaan produk baru antara lain : menciptakan ide-ide, penyaringan ide, evaluasi ide, analisa bisnis, pengembangan dan uji coba, merancang strategi pemasaran, tes pasar serta pengenalan produk baru. Berbagai komponen, proses atau langkah-langkah dalam perencanaan produk baru perbankan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan yang terdapat dalam referensi strategi marketing dalam bisnis industri.
Oleh karena itu, pembahasan produk perbankan dalam pelatihan ini akan dikaitkan dengan sejumlah pandangan tentang perencanaan produk baru dalam persaingan dunia bisnis perbankan yang dikaitkan dengan kebijakan produk (product policy), meliputi : kebijakan harga (price policy), distribution policy (kebijakan distribusi), kebijakan lokasi/tempat (place policy). Selain itu dalam pelatihan ini juga akan dibahas mengenai beberapa komponen marketing mix strategy serta beberapa komponen tambahan yang perlu diperhatikan dalam pembentukan produk baru, seperti mengenai kondisi SDM, tujuan, misi dan visi perusahaan
OUTLINE MATERI
1. Introduction :
* Pandangan para pengusaha dunia perbankan terhadap krisis global
* Pengaruh perilaku inovasi terhadap dunia perbankan
* Pengaruh perilaku kreatif terhadap dunia perbankan
* Strategi Produk Bank
2. Tingkatan produk dan jasa dalam sebuah perusahaan/perbankan
3. Bagaimana strategi produk bank dan daur hidupnya, serta cara mempertahankan produk bank
4. Product Policy
5, Problem Dalam Pengembangan Produk
6. Proses Pengembangan Produk Baru dalam perbankan
* Menciptakan ide-ide
* Riset pasar
* Penyaringan ide
* Evaluasi ide
* Study Kelayakan
* Analisa bisnis
* Penentuan Harga (Pricing)
* Pengembangan dan uji coba
* Merancang strategi pemasaran
* Tes pasar
* Pengenalan produk baru.
7. Karakteristik Utama Produk Baru
* Potensi keuntungan
* Pesaing yang ada
* Pesaing potensial
* Ukuran pasar
* Tingkat investasi
* Kemampuan paten
* Tingkat resiko
8. Strategy pengembangan produk dan diversifikasi produk
9. Analisa pesaing
* Ancaman dari pesaing baru
* Ancaman dari produk substitusi
* Kekuatan penawaran pemasok (dalam hal perbankan adalah Bank Indonesia sebagai mitra sekaligus pengawas perbankan di Indonesia)
* Kekuatan penawaran pihak ketiga (cutomer)
10. Karakteristik Pemasaran Produk Baru
* Sesuai dengan kemampuan pemasaran
* Pengaruh pada produk yang ada (Brand)
* Permintaan pasar konsumen saat ini
* Lamanya potensi siklus hidup produk
* Keberadaan keuntungan yang berbeda
* Dampak pada gambar
* Resistensi terhadap faktor musiman
11. Strategi Pemasaran Produk Baru
12. Sumber Daya Manusia
METHOD
Presentation
Discussion
Case Study
Evaluation
Instructor by : Harris


Pelatihan ini didisain khusus untuk meningkatkan pengetahuan dan keahlian para auditor internal atau satuan pengendalian internal dan para pejabat/pegawai yang berwenang dalam melakukan pengumpulan informasi, pengidentifikasian masalah hukum terkait, pembuktian, dan penyiapan berkas audit dalam rangka menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan demikian dapat diharapkan pelatihan ini akan meningkatkan kemampuan peserta dalam menjalankan tugasnya masing-masing.
AMDAL atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan merupakan studi yang dilakukan dalam pengelolaan lingkungan. Pengelolaan yang dilakukan haruslah secara mendetail dan menyeluruh seperti aspek fisika-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial-budaya dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkapnya.
Peranan audit internal dalam sebuah bank adalah sangat penting karena dapat membantu dalam mencapai tujuannya dengan menerapkan pendekatan yang sistematis untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas proses pengelolaan risiko, kecukupan pengendalian serta proses tata kelola, guna memberikan nilai tambah kepada bank tersebut. Bank Syariah memiliki karakteristik berbeda dengan entitas konvensional. Perbedaan karakter tersebut mempengaruhi bentuk dan standar dalam kegiatan pengawasan lembaga Bank Syariah termasuk pelaksanaan auditnya.
Tuntutan implementasi pengelolaan lingkungan semakin ketat dan menjadi semakin penting bagi kegiatan dan perusahaan yang wajib AMDAL/UKL-UPL. Hal ini terlihat dengan munculnya UU PPLH No 32 tahun 2009 yang mengatur mulai dari perencanaan lingkungan, implementasi dan pencegahan pencemaran hingga penegakan hukum.
Pelatihan ini dibuat untuk cargo acceptance staff, managers dan cargo specialist perusahaan penerbangan, pelayaran, cargo agents, courier, forwarders dan shippers guna pencerahan dan penambahan pengetahuan serta kecakapan dalam menangani pengiriman dangerous goods mengacu pada ketentuan national dan international. Peserta akan menjadi cakap membuat keputusan dalam penerimaan, penanganan pengiriman dangerous goods memakai transportasi udara mengacu pada aturan national dan international yang berlaku.
Tidak dipungkiri bahwa pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Bahwa sejalan dengan hakekat pembangunan nasional tersebut diperlukan penghimpunan dan pengelolaan dana guna memelihara kesinambungan penghasilan pada hari tua dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Benarkah Media Sosial mampu menaikan atau menjatuhkan pencitraan suatu institusi? Benarkah kemenangan sebuah instansi/perusahaan ditentukan oleh pendukungnya yang melakukan pencitraan di berbagai media sosial? Penguasaan atas arus informasi publik kerap terbuki menjadi alat yang ampuh untuk membentuk opini masyarakat yang pada gilirannya memberikan nilai positif. Keunggulan pelayanan, produk dan jasa tidak lagi menjadi satu-satunya senjata untuk memenangkan pasar dan menjadi top of mind. Arus informasi yang semakin mudah diakses melalui media sosial, memberi kontribusi atas kesalahpahaman informasi ke publik dan berakibat terjadinya penurunan citra terhadap institusi tersebut.
Customer service adalah salah satu training yang wajib diberikan kepada staff-staff ujung tombak perusahaan yang berhadapan langsung dengan pelanggan. Staff yang memiliki tugas berhadapan langsung dengan pelanggan adalah kunci utama calon pelanggan dan pelanggan mengetahui tentang perusahaan. Citra perusahaan pun dicerminkan dari bagaimana staff tersebut dalam melayani pelanggan termasuk sopir perusahaan / driver yang bertugas melayani tamu perusahaan. Jika kita sebagai pemilik perusahaan, pastinya kita ingin mendapatkan citra baik dari para pelanggan maupun calon pelanggan kita. Namun demikian, terkadang masih banyak yang belum mengetahui tentang customer service satisfaction itu seperti apa.
Seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, maka pelayanan menjadi hal penting dan strategis untuk diperhatikan. Terlebih pelayanan medis di rumah sakit. Tanpa memperhatikan pelayanan yang baik terhadap konsumen/ pasien/ client, mereka tidak akan pernah datang lagi. Bahkan sangat mungkin akan bercerita kepada keluarga, saudara atau teman temannya.
Salah satu tolak ukur yang digunakan dalam pengukuran standar pelayanan adalah melalui Marketing Research Indicator (MRI) survey. Berdasarkan hal tersebut, bank dengan standar layanan prima akan memperoleh nilai yang baik berdasarkan survey MRI. Dalam penilaian service, bukan hanya customer service dan teller saja yang dinilai tapi juga aspek security, aspek tangible (tampilan bank) dan juga service layanan telepon pada bank tersebut (bukan call center tapi cabang atau KCP terkait). Hal tersebut kemudian akan berdampak pada peningkatan image bank serta indeks kepuasan pelayanan terhadap nasabah.

Pelatihan ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai bagaimana memperlakukan pelanggan sehingga merasa puas. Keterampilan hubungan personal dan memahami aspirasi konsumen termasuk di dalamnya bagaimana memperlakukan konsumen yang kecewa terhadap produk dan pelayanan yang diberikan.
Kesadaran urgensi Customer Service Excellence atau pelayanan prima adalah kesadaran yang harus ditumbuhkan di setiap level dan lini dalam organisasi, karena jika tidak maka akan muncul semacam inkonsistensi dan pemahaman yang parsial sehingga pada akhirnya kurang memberikan pengaruh secara substantif terhadap kepuasan pelanggan. Hal ini dapat dilakukan jika pemahaman pelayanan prima benar-benar dipahami oleh sebagaian besar personil organisasi di setiap level dan lini. Berangkat dari pemahaman yang tinggi dan dipahami secara bersama oleh semua anggota organisasi, maka implementasi pelayanan prima menjadi lebih mudah, membudaya dan dalam kondisi yang ideal hal tersebut menjadi sebuah kebutuhan dan bukan menjadi sebuah kewajiban.